Fernando Curiga Ada Agenda Tersembunyi di Balik Kabar Hoaks WNA Asal China Ikut Pemilu di Indonesia

Apartemen334 Dilihat

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-– Belakangan beredar informasi yang menyebutkan Warga Negara Asing (WNA) asal China berduyun-duyun ke Indonesia untuk mengikuti pemilihan umum.

Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando EMaS menyebutkan bahwa informasi tersebut tidaklah benar alias hoaks.

Dia menilai, narasi-narasi hoaks semacam itu justru bisa merusak proses demokrasi

Fernando menyebut bahwa Informasi hoaks ini menciptakan disinformasi yang dapat merusak persatuan bangsa di tahun politik.

“Saya pelajari sejak lama Negara-negara berdiri juga misalnya seperti perang dunia kedua itu ternyata itu muncul karena hoaks. Di mana diawali dari antara Jerman dan Polandia. Jadi ketika itu Jerman memprovokasi bahwa Polandia akan menyerang Jerman, padahal dilakukan oleh tentara Jerman sendiri sehingga terjadilah perang dunia kedua,” kata Fernando dalam diskusi Barisan Anak Timur (BAT) bertajuk ‘Hoaks Ancaman Serius Persatuan Bangsa di Tahun Politik’ di Jakarta Pusat, Kamis (26/10/2023).

Baca juga: Selundupkan 3,4 Kg Sabu, Bea Cukai dan Polresta Bandara Soetta Tangkap WNA Malaysia, Ini Modusnya

Fernando menegaskan, banyak negara di belahan dunia terjadi konflik karena banyak hoaks sehingga ada yang diuntungkan dari maraknya informasi-informasi yang tak dapat dipertanggungjawabkan.

Hal ini berdampak timbulnya perpecahan di negara-negara itu sendiri. APalagi Indonesia saat ini telah memasuki tahun-tahun politik.

“Apalagi di tahun tahun politik ini kan masing- masing tim ini membuat tim siber. Jadi kalau kita pelajari dari pemilu-pemilu sebelumnya, ternyata mereka bukan sekedar memproduksi hoaks, bukan sekedar memproduksi kepentingan-kepentingan untuk mempromosikan calon presiden wakil presiden yang akan mereka usung, tetapi juga bagaimana memanage dari lawan-lawannya dengan memberi memberikan informasi-informasi yang tidak tepat terkait dengan capres dan cawapres lawan politiknya,” kata Fernando.

“Jadi ini kan karena memang ada yang diuntungkan. Ada yang bisa ada manfaat yang bisa didapatkan dari hoaks sehingga masih saja tetap bisa kita lihat. Ini bagian dari kemajuan teknologi juga. Hoaks ini semakin banyak menyebar dan semakin bisa dinikmati. Jadi hidup dan mati manusia itu bukan hanya pada mulutnya saja sekarang, tetapi pada jempol nya karena ada di tangannya sekarang. Jadi tinggal sekali klik dia bisa menyebarkan informasi yang benar atau juga bisa menyebarkan informasi yang tidak benar itu,” sambungnya.

Baca Juga  Ribuan Pengendara Bermotor di Jakarta Tercatat Kena Tilang Akibat Nekat Lawan Arah

Baca juga: Gibran Melenggang Mulus Jadi Cawapres Prabowo, PSI Siapkan Kaesang Pangarep Jadi Calon Gubernur DKI

Ditegaskannya, memasuki tahun politik, publik kini kembali dihadapi dengan banyaknya berita-berita hoaks khususnya warga China bisa ikut pemilu.

Ia menilai ada suatu agenda tersembunyi mengapa isu ini kerap diproduksi ulang.

Padahal, menurutnya, isu hoaks ini sudah pernah muncul sejak lama bahakn sejak tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau kita lihat ini persaingan negara-negara kuat. Di dunia ini kan ada 2 kutub sekarang ini kan kalau kita lihat ada Amerika ada China. Ya kita tidak bisa menutup mata kita tidak bisa memungkiri bagaimana negara negara adidaya ini juga memberikan pengaruhnya di negara seperti kita Indonesia melalui Pemilu. Dan kita tidak bisa menutup mata juga bagaimana pemerintah saat ini kalau kita lihat lebih cenderung banyak bekerja sama dengan China, makanya ini produksi hoaks ini oleh lawan politiknya Pak Jokowi. Sehingga seperti tadi mungkin banyak hoaks TKA China, (WNA China Dapat) KTP,” kata dia.

“Tapi tidak bisa dibuktikan kebenaran itu. Jadi ini lah memang karena untuk kepentingan-kepentingan menjatuhkan lawan politiknya sehingga hoaks itu diproduksi termasuk saat ini karena yang lebih mudah dimanfaatkan adalah karena Pak Jokowi lebih dianggap kepada China,” tegasnya.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *